Rabu, 16 Mei 2012

REZEKI TERBESAR TUKANG CUKUR

KISAH PENUH HIKMAH

KISAH TELADAN

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur bilang, “Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.

“Kenapa kamu berkata begitu?” timpal si konsumen. Sahut si tukang cukur, “Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Lalu katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, adakah orang yang sakit? Adakah anak yang terlantar?” Lanjutnya, “Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan katanya Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi”.

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah si konsumen meninggalkan ruangan itu, ia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar “mlungker-mlungker” (istilah Jawa-nya), kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Lalu si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, “Kamu tahu, sebenarnya yang tidak ada di dunia ini adalah TUKANG CUKUR”.

Si tukang cukur tidak terima, “Kamu kok bisa bilang begitu? Saya ada di sini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”

“Tidak!” elak si konsumen. “Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”, si konsumen menambahkan.

“Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!” sanggah si tukang cukur. “Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya” jawab si tukang cukur membela diri.

“Cocok!” kata si konsumen menyetujui. “Itulah point utama-nya! Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA! Tapi apa yang terjadi? Orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.

” Si tukang cukur pun akhirnya dengan malu- malu manggut-manggut menyetujui argumen ini dan bersyukur kepada Allah atas kejadian ini, sehingga dapat menemukan Nikmat Rezeki yang Terindah dan Terbesar.

Cerita di atas bercerita tentang keimanan, keyakinan, atau tauhid,

Tapi, kadang kita kalah telak dengan Iblis. Betul sekali, kalah telak. Ah, apa iya? Iya! Iblis, jelek-jelek begitu, dia masih punya yang namanya iman.

- Iblis mengimani bahwa Tuhan itu adalah Allah. Bayangkan, sebagian manusia masih menganggap yang lain-lain sebagai Tuhan.

- Iblis mengimani bahwa Allah itu Maha Kuasa. Iblis mengimani bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Bayangkan, sebagian manusia masih menyangkal, “Ini mustahil, itu mustahil!”

- Iblis mengimani bahwa Nabi Muhammad dan Al-Quran itu memang benar. Bayangkan, sebagian manusia masih mempertanyakan. Ini terbukti ketika sebagian manusia masih mencari orang lain sebagai teladan utama dan mencari sumber lain sebagai rujukan utama.

- Iblis mengimani bahwa Hari Pembalasan itu memang ada. Bayangkan, sebagian manusia masih meragukan. Ini terbukti ketika sebagian manusia masih berani menipu, mencuri, dan menganiaya, seolah-olah tidak akan akan dibalas.

- Iblis mengimani bahwa surga dan neraka itu memang ada. Bukankah dia pernah berada di surga dan manusia belum tentu akan berada di surga? Bayangkan, sebagian manusia masih menduga-duga.

Percayalah, IMAN itu adalah 'REZEKI' yang Termahal dan Terbesar...

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...